Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 April 2017

Inilah Dzulfikar, Sekuriti yang Bikin Gadis Italia Rela Nabung Dua Tahun Untuk ke Indonesia

KISAH cinta gadis Italia, Illaria Monte Bianco dan pemuda asal Batang, jawa Tengah bernama Dzulfikar menjadi viral beberapa hari ini. Bagaimana tidak, Illaria bersedia menabung dua tahun untuk ke Indonesia menemui Dzulfikar.
Lalu seperti apa reaksi Dzulfikar saat bertemu Illaria?
Sebuah rumah di Desa Tragung, Kecamatan Kandeman, Batang, Jawa Tengah, hari-hari ini menjadi pusat perhatian masyarakat. Warga berbondong-bondong datang ke rumah itu bukan karena kemegahan bangunannya. Bahkan, rumah tersebut jauh dari kesan itu.
Lantainya masih dari semen, bukan keramik. Di ruang tamu juga hanya ada perabot sederhana: meja bundar beserta tiga kursi kayu. Di sebelahnya sebuah dipan kayu.
Rumah bercat kuning dan hijau itu dihuni seorang ibu beserta anak lelakinya. Sang ibu bernama Ismoyowati, 50, sedangkan putranya bernama Dzulfikar. Suami Ismoyowati atau ayah Dzukfikar sudah lama meninggal dunia. Sedangkan adik Dzulfikar, seorang perempuan, tinggal di Tegal, untuk mencari penghidupan.
Rumah itu sejak Rabu (19/4) ramai menjadi pembicaraan menyusul datangnya tamu istimewa dari jauh. Tamu asing tersebut adalah Illaria Monte Bianco, gadis 21 tahun asal Bari, Italia. Dia rela jauh-jauh datang ke Desa Tragung hanya untuk menemui pujaan hatinya, Dzulfikar, sang pemuda 24 tahun itu. Mereka dipertemukan via laman pertemanan Facebook.
Bukan hanya warga yang penasaran atas kehadiran Illaria. Aparat desa dan petugas kepolisian pun dibuat kalang kabut. Begitu mengetahui riuhnya pembicaraan di masyarakat, mereka ramai-ramai mendatangi rumah Ismoyowati Jumat (21/4/2017).
Intinya, aparat ingin mengetahui maksud kedatangan gadis Italia yang di negaranya bekerja sebagai pramusaji di sebuah restoran itu. ”Sebelumnya kami berkoordinasi di Balai Desa Tragung. Kami ingin mengetahui maksud dan tujuan dia (Illaria) datang ke sini,” ucap Wakapolsek Tulis Iptu Agus Windarto yang datang bersama tiga anggotanya.
Kepada aparat desa dan petugas kepolisian, Illaria mengaku sudah dua tahun mengenal Dzulfikar di Facebook. Awalnya mereka hanya berteman. Namun, seiring berjalannya waktu, hubungan mereka meningkat menjadi saling jatuh cinta. Bahkan, keduanya berniat untuk melanjutkan ke jenjang perkawinan.
Kedatangan Illaria ke Desa Tragung itu untuk membuktikan cintanya kepada Dzulfikar, sekaligus menunjukkan keseriusannya menikah dengan pujaan hatinya tersebut. “Orang tua saya sudah menyetujui hubungan saya dengan Dzulfikar. Makanya, saya diizinkan untuk pergi ke Indonesia,” kata gadis berambut panjang itu.
Begitu seriusnya cinta Illaria kepada Dzulfikar, dia sampai rela menyisihkan sebagian gajinya untuk ditabung guna biaya ke Indonesia. ”Selama dua tahun ini saya mengumpulkan uang dari hasil bekerja di sebuah restoran di negara saya. Tujuannya, bisa menemui Dzulfikar di Indonesia,” jelas Illaria.
Sabtu (22/4/2017) Radar Pekalongan (Jawa Pos Group) berusaha menemui Illaria dan Dzulfikar di rumahnya. Sayang, Illaria tak berkenan menemui wartawan. Alasannya, dia capek. “Maaf, Illaria sedang istirahat. Dia tidak mau diganggu. Dia sedang melihat perayaan Kartini di sekolah dari jendela. Dia belum mau diwawancarai,” kata Fikar, panggilan Dzulfikar.
Rumah keluarga Fikar memang berada di depan SD Tragung 01. Jaraknya sangat dekat sehingga dari jendela kamar yang dipakai Illaria memungkinkan untuk melihat langsung kegiatan di SD itu.
Fikar lalu menceritakan kisah cintanya dengan gadis pujaannya tersebut. Yang jelas, dia hampir tidak menyangka ketika Rabu (19/4) Illaria memenuhi janjinya, datang ke Desa Tragung.
Fikar seolah tak percaya dan sempat mengira mimpi saat gadis yang disayanginya itu menginjakkan kaki di rumahnya. Saking bahagianya, tanpa sadar, Fikar menangis saat untuk kali pertama bertemu langsung dengan Illaria.
“Saya sampai tidak bisa berkata apa-apa. Tanpa sadar, saya hanya bisa menangis melihat dia di depan pintu rumah,” cerita Fikar mengenang detik-detik yang mendebarkan hatinya bertemu sang kekasih yang selama dua tahun ini hanya “bertemu” di dunia maya. Maka, pertemuan itu seolah menjadi arena bagi sejoli tersebut untuk melepas rindu.
Illaria tiba seorang diri di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten, pada Selasa sore (18/4). Tanpa merasa lelah, dia langsung melanjutkan perjalanan darat menuju Batang, Jawa Tengah. Dia menggunakan jasa travel dan tiba di Batang Rabu pukul 02.30 WIB.
Ketika sudah memasuki kawasan Kandeman, dia hampir saja menyerah untuk menemui Dzulfikar. Illaria dan sopir travel kesulitan untuk mencari alamat Dzulfikar di Desa Tragung. Mereka sudah putus asa. “Mungkin ini kuasa Tuhan. Saat Illaria kebingungan, ada orang (desa) sini yang berangkat kerja di PT Waskita bertemu travel itu,” jelas Fikar.
Berkat bantuan tetangga Fikar itulah, Illaria akhirnya bisa sampai ke rumah calon suaminya itu. “Saya merasa seluruh isi bumi ini seperti menimpa saya. Apalagi melihat perjuangan dan pengorbanan dia untuk datang ke sini. Saya sungguh tidak bisa berkata apa-apa,” tutur Fikar.
Terlebih, Illaria sudah diberi tahu bahwa keluarga Fikar tidak punya apa-apa. Rumahnya juga sangat sederhana. “Tapi, dia tetap ngotot pengin menemui saya. Luar biasa.”
Fikar mengaku awal perkenalan dirinya dengan Illaria dimulai dari jejaring sosial Facebook. Fikar menambahkan Illaria sebagai teman karena adanya saran pertemanan di laman. “Saya yang nge-add duluan. Kemudian, saya chat dia dulu untuk menawarinya berkunjung ke Batang,” lanjutnya.
Awalnya, Illaria tidak yakin akan tawaran Fikar itu. Tapi, setelah berkomunikasi intens selama sekitar dua tahun, mulai tumbuh rasa sayang dan kekeluargaan di antara keduanya. “Ya, awalnya seperti hubungan adik-kakak. Kami juga sering berbagi kegiatan melalui WhatsApp. Saling kirim foto, terutama foto makanan yang kami makan sehari-hari,” terang pemuda yang pernah menjadi petugas sekuriti di sebuah perusahaan tersebut.
Untuk berkomunikasi, mereka menggunakan bahasa Inggris. Meski hanya berijazah paket C, perbendaharaan kata dalam bahasa Inggris yang dikuasai Fikar cukup banyak dan makin banyak setelah sering berkomunikasi dengan Illaria.
Fikar mengaku, kesederhanaan hidupnya dan keluarganya itulah yang membuat Illaria makin penasaran untuk berkunjung ke Batang.
Illaria lahir di Bari, Italia, pada November 1995. Setelah tamat SMA, dia sempat bekerja di berbagai bidang seperti menjadi customer service, instruktur renang anak, dan perawat. Tapi, dia kini menjadi pramusaji di restoran.
“Kami sudah berdiskusi panjang untuk bisa mengunjungi negara masing-masing. Tetapi, setelah kami hitung dari basic income kami, akhirnya diputuskan Illaria yang ke sini dulu,” terang Fikar. “Mungkin, suatu saat nanti saya yang berkunjung ke rumahnya di Italia,” imbuhnya.
Sementara itu, Ismoyowati mengaku kedatangan lllaria sempat membuatnya shock. Dia benar-benar tidak menyangka gadis tersebut datang untuk menemui dan berencana menikah dengan putranya. Tapi, dalam sekejap, Ismoyowati langsung lumer melihat sikap Illaria yang dinilainya sopan, lemah lembut, dan ramah.
“Tingkah lakunya kayak putri Solo. Anteng dan manut. Kalau ada tamu, ya disalami satu-satu. Makanya, banyak tetangga yang bertamu dan ingin berfoto dengan dia. Tapi, dia menolak dengan halus kalau difoto,” ujarnya.
Ismoyowati maupun Fikar belum bersedia menjelaskan lebih jauh tentang rencana pernikahan gado-gado itu. Yang penting, kata Ismoyowati, saat ini kedua pihak saling menjajaki lebih jauh. “Kalau itu (rencana pernikahan, Red), kami belum tahu. Wong baru bertemu,” tandas dia.

Pria ini Sering Temukan CD Adik Ipar dan Istrinya Selalu Kelelahan, yang Terjadi Sunguh mengejutkan


 

Di dalam perjalanan berumah tangga, memang tidak selalu mulus dan berakhir bahagia.
Terkadang, muncul berbagai masalah yang menyulut emosi hingga mengakibatkan pecahnya sebuah pertengkaran. Pertengkaran kecil biasanya akan reda dengan sendirinya tanpa melakukan tindakan penyelamatan.
Namun untuk pertengkaran besar, sudah barang wajib permasalahan tersebut harus segera diatasi dan ditemukan solusi serta titik terangnya, karena jika tidak, perpecahan biduk rumah tangga menjadi taruhannya.
Seperti yang dialami pria ini, dimana ia merasa sudah tidak ada kecocokan lagi dengan sang istri, hingga akhirnya memutuskan bercerai. 
Namun, saat ia menikahi perempuan lain, justru problem rumah tangganya semakin pelik, karena menduga sang istri telah berlaku durhaka dibelakangnya.







Selengkapnya, simak penutusan sang suami, yang menanyakan solusi terbaik untuk kehidupan rumah tangganya ini, seperti dilansir konsultasisyariah.com, yang dikutip dari Majalah Nikah, Vol. 4, No. 5, 2005/1426.
Saya seorang lelaki berumur 24 tahun, ingin berbagi masalah. Kira-kira 10 tahun yang lalu saya menikahi seorang gadis idaman, kembang di desa saya.
Memasuki tahun kelima pernikahan, gaya hidup saya berubah. Saya mulai mengenal ajaran agama dan giat mempelajarinya.
Semenjak itu, saya pun mulai berupaya memperbaiki keluarga. Saya ajak istri untuk mengaji, ternyata ia menolak.
Awalnya, saya memahami karena sejak awal berumah tangga, kami memang tidak mengenal agama, meski kami lahir sebagai muslim dan muslimah.
Semakin banyak hukum yang saya ketahui, atau mulai saya sadari konsekuensinya, semakin banyak pula persoalan dalam rumah tangga.
Untuk mendidik anak saja, saya kesulitan, karena sering bertengkar dengan istri.
Puncaknya, istri selalu menghalangi saya mengaji, dan menuduh saya sudah tidak lagi menyayanginya.
Istri menolak mentah-mentah ketika saya memerintahkannya untuk mengenakan jilbab, bahkan melecehkannya.
Akhirnya, rumah tangga kami ambruk. Kami resmi bercerai. Dua anak kami ikut bersama istri saya. Saya pun mulai merantau.









*

Singkatnya, di perantauan saya berhasil menikahi seorang wanita yang saya anggap shalihah, berdasarkan kondisi lahiriahnya.
Ia berbusana muslimah secara layak. Penampilannya sederhana. Kami pun menikah dengan penuh rasa suka.
Saya merasa impian saya selama ini terwujud. Begitulah yang kami rasakan selama empat tahun pernikahan, hingga kami dianugerahi dua anak.
Tapi, lagi-lagi ujian datang menerpa. Bahkan, kali ini saya rasakan lebih hebat dan mengguncang jiwa.
Istri yang selama ini saya anggap shalihah, ternyata melakukan hal-hal yang tidak layak.
Seringkali saya dapati pakaian dalam adik ipar lelaki saya di dalam kamar istri.
Semula saya anggap kebetulan saja. Tapi itu berlangsung terus menerus.
Saat ditanya, istri saya selalu mengatakan sambil marah, “Waktu saya keluar, dia ganti pakaian di kamar kita!”
Tapi, setiap menemukan pakaian adik ipar, saya melihat istri kelelahan, tubuhnya di banyak bagian memperlihatkan tanda-tanda habis dicumbui.







(bukan sendiri, karena bekasnya terlihat membentuk dua bibir, sehingga tak mungkin dilakukan sendiri).
Karena tak ada bukti istri berselingkuh, apalagi dengan adiknya sendiri, saya tidak bisa apa-apa.
Karena sempitnya rumah, memang seringkali adik ipar saya tidur di tempat yang bersebelahan dengan tempat istri saya.
Itu berlangsung kerap sekali. Tapi yang membuat saya semakin tersiksa, meski istri saya berpakaian muslimah secara baik, ia sering (bahkan terus-menerus) kedapatan tidak shalat!
Saya pernah pergi ke mesjid, dan menyembunyikan perlengkapan shalatnya. Pulang dari mesjid, saya tanya,
“Kamu sudah shalat?” “Sudah!,” jawabnya. “Mana mukenanya?,” tanyaku. “Di lemari!,” jawabnya. Setelah dicari, tidak diketemukan.
Bahkan, sering saya sengaja shalat di rumah, untuk menyelidiki dugaan saya. Ternyata, dia memang tidak shalat lagi.
Join Now
Bahkan saat dinasihati, ia tidak membantah. Hancurlah segala harapan saya.
Apa yang harus saya lakukan? Kalau harus bercerai lagi, bagaimana tanggapan orangtua dan istri pertama saya nanti?
Saya pun benci perceraian. Tapi, untuk bertahan dengan istri saya ini, rasanya sulit.
Oh ya, setiap kali saya mengajak teman laki-laki, istri saya selalu memandanginya dengan penuh nafsu, sehingga banyak teman saya yang takut.
Jawaban: Saudara Tidak Bisa Menuduh Istri Anda Berselingkuh, Ini Alasannya. Termasuk Soal ''Kepuasan'' Si Dia
Kami sangat terhenyak,kami bisa merasakan betapa hancur hati Saudara, bila kenyataannya seperti itu. Ibarat berlari dari mulut macan, Saudara nyasar ke mulut buaya.
Akan tetapi, mudah-mudahan kenyataannya tidaklah seperti itu. Kalau pun memang demikian, sadarilah bahwa semua itu merupakan ujian bagi keimanan Saudara.
Allah mungkin hendak menguji, betulkah Saudara hendak memperbaiki diri? Jalan menuju surga memang penuh cobaan.
Kalau Saudara bertahan dalam dunia maksiat, mungkin Saudara merasa lebih nyaman. Rumah tangga bisa lebih langgeng.










Namun, apalah artinya kelanggengan sebuah rumah tangga yang hanya akan melemparkan para anggotanya ke dalam neraka jahanam? Dalam awal surat an-Nisa', Allah menjelaskan salah satu fungsi pernikahan,
“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan darinya Allah menciptakan istrinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan wanita yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (Qs. an-Nisa': 1)
Seorang muslim menikah dengan muslimah agar dapat saling membangun pondasi ketakwaan dalam kehidupan rumah tangga. Diawali dengan keimanan, dipupuk dengan cinta kasih, dan disemai dengan pergaulan yang baik. Hasilnya adalah kebahagiaan dunia-akhirat.
Dengan niat Saudara yang tulus (mudah-mudahan demikianlah adanya), mungkin kejadian yang Saudara alami adalah cobaan sekaligus peringatan, agar Saudara berhati-hati memilih seorang istri.
Sosok wanita yang secara tegas tidak menyukai ajaran Islam, sama sekali tidak layak dijadikan seorang istri. Akan tetapi, penampilan lahiriah yang baik, bukan jaminan.
Itulah sebabnya, setiap muslim diperintahkan untuk meneliti agama calon istrinya. Ingat, meneliti agamanya bukan sekadar memelototi penampilan lahiriahnya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Wanita itu dinikahi karena empat, karena kecantikannya, karena keturunannya, karena kekayaannya, dan karena agamanya. Menanglah dengan memilih agamanya, maka dirimu akan selamat dari cela.”
Untuk persoalan Saudara yang pertama, mungkin bisa dipikirkan kemudian.
Karena saat ini, Saudara tidak lagi bersama mantan istri tersebut. Mungkin saja suatu saat kalian kembali menjadi suami-istri.
Mungkin hanya persoalan anak yang harus Saudara pikirkan. Sebagai ayah, tentu berkeharusan memikirkan masa depan mereka, meski berada dalam asuhan mantan istri.
Yang lebih penting adalah menyoroti persoalan Saudara yang sekarang, dengan wanita yang masih menjadi istri sah Saudara saat ini.
Yang terlihat pada perilaku istri saudara memang menunjukkan gelagat yang kurang baik. Meski banyak bukti-bukti cukup kuat, namun belum bisa menjadi bukti nyata bahwa istri saudara berselingkuh.










Tanpa menutup kemungkinan benar-benar terjadi. Namun secara hukum, dengan cara apa pun di dalam Islam, Saudara tidak bisa menuduhnya melakukan perselingkuhan.
Harus ada pengakuan dari si istri, atau Saudara memang menyaksikan sendiri perselingkuhan, bersama tiga saksi lainnya.
Kalau hanya Saudara sendiri yang menyaksikannya, hukum zina tidak bisa diberlakukan secara formal dengan dirajam (bila di negara Islam), tetapi saudara sudah bisa memastikan bahwa ia berzina.
Saudara sudah berhak untuk berpisah dengannya.
Bahkan bila tidak bertobat, haram bagi saudara untuk tetap bersamanya.
Itu berkaitan dengan kasus pertama yang Saudara tuduhkan kepada istri. Tentang hal kedua, bukan masalah sepele.
Bahkan, bila terbukti tidak lagi menjalankan shalat, paling ringan hukumannya ia telah melakukan perbuatan kufur kecil, lebih berat hukumnya dari zina, berdasarkan kesepakatan ulama.
Bahkan menurut sebagian ulama, ia telah kafir, keluar dari Islam.
Pertama-tama, saudara berkewajiban menjelaskan tentang hukum shalat kepada istri Saudara tersebut secara lebih tegas.
Karena itu kesalahan yang sudah pasti dia lakukan.
Meski perbuatan pertama (kemungkinan zina), bila benar-benar terjadi tampak lebih berat, sebenarnya hukum meninggalkan shalat secara terus-menerus, meski hanya karena malas, disepakati ulama lebih berat daripada hukum berzina.
Kedua, Saudara harus memperhatikan kewajiban-kewajiban terhadap istri.
Diantaranya, soal pemberian kepuasan seks.
Perlu dicatat di sini, kepuasan seks, bukan jatah tidur bersama.
Ada kalanya seorang suami memberikan jatah tidur bagi istrinya dalam kuantitas memadai, namun miskin kualitas.
Ini bisa menjadi penyebab sang istri kurang mendapatkan kepuasan.










Orgasme adalah satu di antara hal yang harus dicapai untuk mendapatkan kepuasan hubungan badan.
Namun, orgasme bukanlah segala-galanya.
Karena hubungan badan lebih merupakan manifestasi dari cinta kasih yang dibuktikan dengan totalitas kebersamaan secara lahir maupun batin.
Sentuhan kasih secara kejiwaan, tidak kalah penting.
Memang, bagi seorang wanita shalihah, suami yang kurang memberikan kepuasan bukanlah alasan untuk berzina.
Tetapi sebagai suami yang baik dan shalih, kita tidak boleh membiarkan hak istri terlantar. Bila terjadi perselingkuhan karena hal itu, kita pun termasuk orang yang ikut memberi saham kekeliruan.
Selain itu, Saudara wajib memberi hak perlindungan, terhadap keselamatan dan kesucian istri. Saat membiarkan adik saudara seringkali tidur berdampingan dengan istri, tentu saja sebuah kesalahan yang tidak bisa dianggap sepele. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan anak-anak kita untuk tidur secara terpisah, bila sudah berumur sepuluh tahun. Apalagi bila sudah dewasa, seperti istri saudara dengan adik laki-lakinya.











Baiklah. Itu menjadi pelajaran penting bagi kita semua, bahwa setan tidak pernah membiarkan seorang anak Adam berbuat kebajikan selamanya. Dengan segala upaya, ia berusaha menjerumuskan setiap anak Adam ke lembah maksiat, bahkan kekafiran.
Tidak peduli dosa apa pun yang sudah dilakukan istri Saudara, yang terpenting adalah memproses pendidikan Islam untuknya. Seperti telah disebutkan di atas, berilah penyadaran hukum. Kemudian, suruhlah dia bertobat. Mungkin, sebagai manusia biasa, seperti kita, ia bisa saja berbuat salah dan kekeliruan.
Berilah nasihat dengan penuh hikmat. Ingatkan dia akan “cinta abadi”, cinta sepasang suami-istri yang bukan saja bertahan selama hidup di dunia, namun dibawa terus ke alam akhir, ke alam surga kelak. Cinta abadi seperti itu, hanya bisa diperoleh dengan memproses diri menjadi pasutri yang taat menjalankan kewajiban agama, hidup dan mati sebagai muslim dan muslimah sejati.
Hal terakhir yang kami nasihatkan, jangan menganggap seagalanya telah berakhir. Selama napas masih berhembus, masih tetap ada kesempatan untuk memperbaiki diri. Orang-orang yang hidup dalam bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja masih ada yang bisa berbuat maksiat, apalagi di lingkungan kehidupan seperti sekarang ini.










Berilah kesempatan bagi istri Saudara itu untuk bertobat. Jangan memaksa dirinya untuk mengakui segala kesalahannya. Apa pun yang pernah dia lakukan, perintahkan dia untuk kembali ke jalan yang benar. Jangan lupa, aktiflah hadir di majlis-majlis ilmu, sering-sering mendengarkan ceramah keagamaan dan bacaan al-Quran secara murattal.
Dengan cara itu, niscaya Saudara pun akan berbahagia dengan kembali ke dalam pelukan sang istri yang shalihah, sebagai anugerah kenikmatan yang tiada bandingnya. Namun, bila segala cara sudah diusahakan dan istri Saudara tidak berubah, keputusan di tangan Saudara. Sah-sah saja jika Saudara menceraikannya.
Bila Saudara masih ingin mempertahankannya, dan saudara yakin bisa tetap bertahan dalam kebenaran dan tidak akan membahayakan anak-anak Saudara kelak, silakan dipertahankan. Jangan lupa beroda, terutama di penghujung malam .